Mengenal Sosok Budi Waseso dan Anang Iskandar
Awal September masyarakat dihentak dengan kabar yang cukup menyengat. Masyarakat dibuat melek dan terus memelototi berita baik di surat kabar maupun layar kaca. Di saat hangat-hangatnya Pak Kabareskrim Budi Waseso gencar mengusut kasus Pelindo, eh tiba-tiba publik dikejutkan dengan pertukaran jabatan dirinya. Budi Waseso ke BNN, Anang Iskandar ke Bareskrim. Keduanya jadi nomor satu di tempat masing-masing.
Meski sempat jadi polemik, dan jadi bahan gunjingan dari mulai pejabat teras hingga petugas pos ronda, namun inilah dinamika. Entah scenario apa, dan penulis tak mau menduga-duga. Yang pasti, keduanya adalah putera terbaik polisi saat ini.
Pergantian jabatan ini dikuatkan dengan adanya Keputusan Presiden RI No : 139/M Tahun 2015 tentang pemberhentian dan pengangkatan dari dan dalam jabatan Kepala BNN serta Surat Telegram yang dikirim oleh Kapolri, Nomor : ST/1847/IX/2015, tanggal 03 September 2015 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Polri.
Agar lebih kenal dekat dengan kedua jenderal bintang tiga ini, penulis mengutip dari sejumlah sumber.
Sosok Anang Iskandar, Jenderal Jago Pangkas Rambut dan Melukis
Sedikit mengenal sosok calon Kabareskrim yang baru, Komjen Anang Iskandar, merupakan pria kelahiran Mojokerto, Jawa Timur, 18 Mei 1958. Lahir dari pasangan Suyitno dan Raumah, hidup Anang Iskandar tergolong tradisional dan sederhana. Sang ayah hanya seorang tukang cukur yang biasa mangkal di sekitar jalan Residen Pamudji, Mojokerto. Anang banyak belajar seni mencukur dari ayahnya. Pengalaman masa kecil ini membuatnya terampil dalam mencukur rambut. Semasa mengikuti pendidikan militer AKABRI, Anang sering membantu para taruna memotong rambut mereka. Anang juga pernah mendalami ilmu fotografi saat duduk di bangku SMA. Kecintaannya terhadap seni membuatnya kerap menghabiskan waktu bersama kanvas dan kuas lukisnya dirumah.
Keterampilannya mencukur terbawa hingga ia menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian. Tak jarang Anang dimintai bantuan untuk mencukur rambut rekan-rekannya bahkan para seniornya. Ketika menjadi senior di AKPOL, Anang sempat memperoleh kesempatan untuk membina para taruna baru. Anang dilantik menjadi Perwira Muda pada tanggal 15 Maret 1982, dan ditempatkan sebagai Kepala Polisi untuk wilayah Polda Bali. Karir Anang terus bergerak naik ketika dipercaya sebagai Kapolsek wilayah Denpasar Selatan, dan Kapolsek Kuta hingga akhirnya ia menjabat sebagai Kasat Serse Polres Tangerang. Semenjak itu, berbagai posisi tertinggi dalam badan kepolisian negara Republik Indonesia banyak dipercayakan kepada Anang Iskandar. Anang Iskandar juga pernah menjabat sebagai Kepala SPN (Sekolah Polisi Negeri) di Mojokerto dan di SPN Lido Polda Metro Jaya. Di samping itu, Anang Iskandar juga pernah dipercaya sebagai Kapolres Metro Jakarta Timur dan seterusnya pada 11 Januari 2006 dilantik sebagai Kapolwiltabes Surabaya. Setelah 4 tahun menjabat di Surabaya, pada 28 Oktober 2011, Anang dipercaya menjabat sebagai Kapolda Jambi. Di tahun 2012, Anang Iskandar menempati posisi sebagai Kadiv Humas Polri. Anang Iskandar juga pernah menjabat sebagai Gubernur Akademi Kepolisian hingga akhirnya menempati posisi sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional. *Dikutip dari berbagai sumber
Komjen Budi Waseso Tukang Ojek Jadi Kepala BNN
Jika tukang bubur naik haji itu terjadi dalam film layar kaca, maka tukang ojek jadi jenderal bintang tiga itu nyata adanya. Sang jenderal kini mengomandani sebuah lembaga besar yang membidangi masalah penanggulangan narkotika atau yang dikenal Badan Narkotika Nasional. Dialah Budi Waseso, salah seorang putra terbaik bangsa yang terbiasa ditempa dengan kerja keras dan nilai kejujuran.
Perjalanan Hidup memang selalu menyuguhkan drama dan juga misteri, dan ini pasti dialami oleh semua insan di bumi. Seorang Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Budi Waseso, juga mengalami drama-drama hidup yang dulu mungkin bisa menguras peluh dan air mata, namun sekarang jadi kenangan indah yang bisa mengundang derai tawa bahagia.
Pejuang Tangguh Tak Kenal Gengsi
Inilah fakta, Budi Waseso, seorang jenderal bintang tiga yang pernah menjadikan vespa sebagai salah satu sumber pendapatan. Saat dirinya sudah menjadi perwira polisi, Budi Waseso pernah menjadi pilot motor alias ojek tanpa kenal gengsi. Semua dijalani karena terdorong untuk menopang berbagai kebutuhan.
Bagi Budi, Vespa tahun tujuh puluhan ini menjadi salah satu saksi bisu betapa ia harus berjuang menguras peluh agar kebutuhan hidup dapat diatasi tanpa banyak keluh. Ia mengojek selepas tugas yang mana pada waktu itu ia berdinas di Direktorat Pendidikan Polri.
Tak banyak pundi-pundi yang diraih tapi cukup membantu menopang biaya hidupnya. Menurut ingatannya, pada saat itu dirinya bisa mendapatkan uang Rp 2 ribu dalam satu hari. Uang tersebut ia gunakan untuk kebutuhan makan siang dan bahan bakar untuk kebutuhan dinas. Saat itu, ia harus mengajar dari satu tempat ke tempat lainnya dan lumayan menguras tenaga dan biaya bahan bakar, karena itulah ia mencari penghasilan tambahan.
Rupanya bukan hanya jadi pilot motor yang ia lakukan. Dirinya juga sempat menjadi pengemudi taksi. Pada saat itu, taksi hanya beroperasi hingga jam delapan malam. Ia melihat ruang kesempatan untuk mencari pendapatan tambahan.
Tanamkan Kejujuran dan Tanggung Jawab
Bicara soal kejujuran, Buwas selalu menanamkan nilai kejujuran dan tanggung jawab pada seluruh jajarannya di manapun ia mengemban tugas. Ia mencontohkan dirinya yang tak malu untuk menjadi ojek dan juga menjadi sopir taksi tembak.
Karena itulah, ketika disinggung mengenai adanya oknum aparat yang melindungi bisnis narkoba, ia dengan tegas mengatakan siapapun oknum yang berada di balik kejahatan narkoba harus ditindak dengan tegas. Jika dibiarkan maka peredaran narkoba bisa leluasa dijalankan.
Bertindak Tanpa Pesanan dan Tekanan
Dalam setiap tugas yang diemban, Buwas juga dikenal tak pernah melakukan tindakan yang didasari pesanan atau tekanan. Semua yang dilakukan murni karena komitmen untuk menegakkan hukum. Perlu digarisbawahi, penegakkan hukum itu tak boleh tebang pilih alias pilih-pilih.
Efektifkan Aturan
Terkait implementasi Undang-Undang Narkotika, ia memiliki tekad untuk melakukan evaluasi untuk menghitung kebijakan mana yang efektif mana yang tidak. Ia selalu mempertimbangkan, bahwa penegakkan hukum itu bisa membuat efek jera dan bisa merubah perilaku menjadi lebih baik.
Semua hal harus dievaluasi agar langkah-langkah ke depan itu tepat. Jangan sampai ada aturan yang disalahgunakan. Jangan sampai ada bandar yang merangkap pengguna, nantinya berlindung seolah-olah di itu korban sehingga dapat rehabilitasi”, begitulah pernyataan Buwas di salah satu acara televisi baru-baru ini.
Menghargai Perjuangan Sang Ibunda
Di balik kegarangan seorang Budi Waseso, terdapat sosok penyayang terutama pada sang ibunda tercinta. Ia mengingat betul, bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh seorang ibu untuk membesarkan ketujuh buah hatinya.
Saat kecil, ia bersama dengan enam saudara kandung lainnya sering ditinggal sang ayah karena tugas di militer. Saat itulah ibu berperan besar dalam membina dan mendidik anak. Tugas ibu untuk mendidik anak memang termasuk tugas yang tidak mudah. Enam diantaranya adalah anak laki-laki dan semuanya nakal.
Kisah Tiga Tusuk Sate
Satu kenangan yang tak pernah terlupakan, ketika Buwas dan saudara kandungnya menyampaikan keinginan pada sang ibu untuk mencicipi sate. Karena saat itu tidak ada uang, sang ibu terpaksa menjual baju seragam cadangan tentara milik sang ayah untuk dibelikan tiga tusuk sate. Sang ibu berusaha untuk membaginya dengan adil. Dari tiga tusuk sate yang hanya terdiri dari beberapa butir daging harus dibagi untuk ketujuh anaknya. Sungguh pengorbanan di tengah keprihatinan tetapi sang ibu selalu berusaha sebisa mungkin memenuhi kebutuhan putera puterinya. Maka tak heran Budi meneteskan air mata, ketika ia mengenang masa kecilnya bersama orang tua dan saudara.
Komentar Anda
Belum ada Komentar
Login untuk mengirim komentar, atau Daftar untuk membuat akun, gratis dan proses nya hanya 2 menit.